Tabung Setan 3 Kilogram, Sampai Kapan Makan Korban?

Ledakan demi ledakan tabung elpiji 3 kilogram menghadirkan trauma di masyarakat

Ledakan demi ledakan tabung elpiji 3 kilogram menghadirkan trauma di masyarakat

LAGI? Demikian mungkin yang ada di benak Anda, saya, atau siapa pun yang mendengar kabar lagi-lagi meledaknya tabung gas elpiji 3 kilogram. Terakhir, nasib naas menimpa warga Tanjung Duren, Jakarta Barat. Sepuluh orang korban menderita luka bakar di sekujur tangan, kaki, dan wajah.

Sampai kapankah tabung setan elpiji 3 kilogram ini akan terus memakan korban? Seolah “haus darah”, ledakan demi ledakan mengakibatkan masyarakat kita menderita.

Menurut pemberitaan VIVAnews, ledakan itu terjadi hari Minggu ini (25/7) sekitar pukul 03.45 dini hari di sebuah rumah kontrakan di Jalan Mandalika I Tanjung Duren, RT 06 RW 06 Tanjung Duren Selatan.

Kesepuluh korban itu adalah Kasran (40), Zainudin (20), Warsono (45), Dasori (41), Usman (37), Aang (40), Ardi (24), Sawiyah, Taruni (35), dan Ena.

Dari kesepuluh korban tersebut, Kasran dan Sawiyah adalah korban dengan luka bakar paling parah. Kasran adalah orang yang mempunyai tabung gas yang meledak. Laki-laki yang bekerja sebagai pedagang bubur ayam itu mengalami luka hampir di sekujur tubuhnya.

Sementara Sawiyah juga bernasib serupa. Sawiyah juga mengalami luka bakar di kedua tangan, kaki dan tubuhnya. Bahkan, Karsan dan Sawiyah harus menjalani operasi karena luka bakarnya yang cukup parah.

Kasihan, masyarakat yang hendak memasak, tujuan utama mereka menggunakan tabung elpiji, justru terkena ledakan. Seiring banyaknya kasus ledakan, masyarakat pun syok, sebagian memilih tidak menggunakan lagi tabung elpiji – utamanya 3 kilogram – seumur hidup mereka.

Padahal, elpiji 3 kilogram didistribusikan untuk kalangan menengah ke bawah. Setelah program pemerintah yang membatasi penggunaan minyak tanah, melalui pencabutan subsidi, dan menggantinya dengan gas.

Tanggal 9 Juli lalu, seperti dikabarkan Okezone, salah satu produsen tabung gas menghentikan distribusi serta aksesoris tabung elpiji 3 kilogram.

Sebenarnya tidak dihentikan, tapi untuk sementara memang sedang diinvestigasi, pemerintah sedang menganalisa terlebih dahulu terutama karena selang dan regulator yang beredar di pasaran dianggap bermasalah,” jelasnya saat ditemui di pabriknya, Jababeka, Cikarang, Jumat (9/7/2010).

Sebagian warga kota Semarang trauma dengan ledakan membahayakan itu, seperti diwartakan Republika.

“Kejadian ledakan tabung elpiji di Indonesia beberapa minggu terakhir ini membuat saya enggan berlama-lama di dapur,” kata seorang warga Kampung Tampomas, Gajahmungkur, Semarang, Misrini (45), di Semarang, Selasa (6/6).

Bahkan, katanya, peristiwa ledakan yang sering dimuat di banyak media massa membuat dirinya tidak berani menyentuh tabung elpiji itu. “Akan tetapi, kondisi tersebut belum membuat saya beralih ke bahan bakar lainnya,” kata dia.

Menurut dia, tidak ada pilihan selain elpiji karena harga bahan bakar lain, seperti minyak tanah yang kini berharga Rp8.500 per litar, tidak terjangkau lagi bagi dia yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima.

“Untuk mengantisipasi ketakutan yang saya alami, saya selalu menyuruh orang lain, terutama agen yang menjual tabung elpiji, untuk memasang katup pada tabung elpiji,” ungkap Misrini.

Kiswati, 50, warga Semarang lainnya meminta pemerintah mengambil tindakan yang diperlukan. Mengapa? karena “teror” tabung 3 kilogram sudah meresahkan masyarakat.

“Saya berharap pemerintah segera mengatasi permasalahan trauma pada masyarakat terhadap ledakan tabung elpiji. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan segera melakukan pembenahan dalam pengadaan perlengkapan pada bahan bakar elpiji maupun melalui penyuluhan,” kata Kiswati.

PT. Pertamina kabarnya bersedia mengganti selang elpiji substandar untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya ledakan. Tapi, itu pun ada syaratnya.

Pada kesempatan lain pihak PT Pertamina (Persero) menyatakan bersedia mengganti selang elpiji substandar untuk mengantisipasi ledakan tabung asalkan pemiliknya merupakan keluarga sasaran program konversi minyak tanah ke gas. Konsumen juga mendapat kesempatan membeli selang standar SNI dengan harga eks pabrik asalkan mereka membawa tanda bukti bahwa dia peserta program konversi dan selang bekas.

Meski banyak kasus ledakan, pemerintah justru terkesan menyalahkan rakyat, demikian menurut Media Indonesia.

Menurut koordinator tim Agung Laksono, penyelidikan menunjukkan ledakan yang terjadi bukan akibat kerusakan tabung, melainkan pada aksesorisnya, seperti pada selang, katup, regulator, rubber seal, kompor maupun zat pembau yang kurang berbau.

“Namun selain itu adalah juga karena kurangnya wawasan dan pengetahuan masyarakat akan penggunaan yang benar. Ditambah adanya dugaan praktik ilegal dan kondisi lingkungan yang tidak aman,” ungkap Agung, dalam pertemuan dengan DPR itu.

“Saya yakin kalau masyarakat patuh dan disiplin pada cara penggunaan yang disosialisasikan, ledakan tabung tidak akan terjadi lagi,” ungkapnya.

Siapakah sebenarnya yang salah? Sampai kapan bencana ledakan tabung 3 kilogram terus terjadi? Semoga segera bisa diakhiri.

About A26
Copyright © 2010 Aktual26. All rights reserved. The materials (partial or whole) in this site can only be reproduced and rewritten with the writer’s (A26) consent. You may do otherwise provided you have added a trackback to the particular entry in this blog and wrote this site’s name as the source. A26 does not and never claim ownership of every image displayed in this site, except the ones I’ve photographed myself. All quoted, not written by me, news items and/or articles are properties of their respective owners. Learn more in bahasa Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: