Kenapa Pria Betah Melajang?

Ilustrasi: Para pria di bar.

Ilustrasi: Para pria di bar.

ANDA mungkin pernah menjalin asmara dengan seorang pria yang tampak sudah siap menikah, tapi selalu mengelak ketika didesak segera melamar. Ternyata, usia tidak memainkan peran penting dalam alasan yang mereka kemukakan.

Pria di usia awal 40-an bisa saja tidak mau atau tidak siap menikah, tidak seperti pria di awal 20-an. Di sisi lain, ada banyak pria yang mau menikah segera setelah lulus kuliah. Jadi sebenarnya, apa alasan pria tetap menjomblo?

Simak lima jawaban di antaranya, seperti dilansir Galtime.

Kebebasan

Ada banyak manfaat dengan menikah, tapi kebebasan bukanlah manfaat yang dirasakan sebagian pria. Ketika melajang, pria bebas pergi ke mana saja yang mereka inginkan, bebas makan apa saja, kapan saja.

Menurut mereka, wanita menjadi pengikat kebebebasannya setelah menikah. Istrinya menghabiskan uang, tapi hanya pada hal yang sesuai keinginannya. Pernikahan bisa mengubah banyak keadaan. Sebagian pria masih betah melajang hanya karena tidak ingin menyerahkan kebebasan mereka.

Kegembiraan

Menjadi pria single membuatnya bebas berpetualang; datang ke pesta sampai larut ataupun merajut cinta dengan beberapa wanita. Setiap waktu merupakan kesempatan baginya untuk petualangan baru dan memompa adrenalinnya pada sebuah tantangan menyenangkan. Soal menikah, selalu ada hari esok, kan? Begitu pikirnya.

Tidak sesuai fantasi

Setiap pria punya fantasi ideal soal pasangan hidup mereka kelak. Sosok yang diidamkannya mungkin seorang model pakaian dalam atau salah satu bintang erotis. Karena belum ada satu pun wanita dalam kehidupan nyata mereka yang cocok dengan fantasinya, sebagian pria rela terus mencari sampai mereka menemukannya.

Selama terus mencari, mereka tetap berpegang pada impiannya dan tidak akan dapat berkomitmen pada sosok wanita biasa yang jauh dari fantasinya.

Takut pada tanggung jawab

Dengan pernikahan (termasuk anak), maka muncul tanggung jawab. Bagi sebagian pria, hal itu menakutkan. Tanggung jawab lainnya dengan memiliki pasangan hidup adalah memegang nilai kesetiaan.

Belum benar-benar dewasa

Pernikahan dan anak-anak adalah untuk orang dewasa yang bertanggung jawab serta ingin berbagi dan memberi. Sebuah pernikahan yang baik tergantung pada nilai-nilai tersebut. Menjadi orangtua adalah 100 persen memberi tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

Anak-anak pada dasarnya egois. Fokus utama mereka adalah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka menghabiskan hari-hari dengan makan, tidur, bermain, dan tidak memikul tanggung jawab apa pun. Semua yang perlu mereka lakukan adalah mengikuti aturan sederhana dan bersenang-senang.

Nah, sebagian pria tidak pernah tumbuh dewasa untuk menerima itu semua sementara anak-anak tetap dengan sifat mereka. (Okezone)

About A26
Copyright © 2010 Aktual26. All rights reserved. The materials (partial or whole) in this site can only be reproduced and rewritten with the writer’s (A26) consent. You may do otherwise provided you have added a trackback to the particular entry in this blog and wrote this site’s name as the source. A26 does not and never claim ownership of every image displayed in this site, except the ones I’ve photographed myself. All quoted, not written by me, news items and/or articles are properties of their respective owners. Learn more in bahasa Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: